saco-indonesia.com, Udara yang tidak menentu memang juga sangat mengakhawatirkan. Hujan juga bisa mendadak turun dan suhu udara akan menjadi tinggi. Selain payung, tentunya jaket juga bisa menjadi alternatif pilihan yang sesuai. Apalagi fungsi utama jaket untuk dapat melindungi tubuh kian menarik dengan model yang sesuai tren. Di antara pilihan yang beragam, bagaimana cara untuk memilih jaket yang pas di badan? Simak tipsnya di sini, seperti dikutip dari Mag for Women.

1. Ajak Teman
Pendapat kedua selalu penting ketika kita bingung dalam menentukan pilihan. Kita juga terkadang bingung dengan beragam model yang telah ditawarkan. Nah, di sinilah fungsi teman. Teman yang baik akan selalu memberikan pendapat yang jujur dan apa adanya. Sehingga kita tidak lagi bingung dalam menentukan pilihan. Mengajak teman untuk berbelanja juga selalu menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan.

2. Jangan Tertipu
Seringkali pramuniaga juga menawarkan pilihan jaket mahal yang sebenarnya belum tentu cocok untuk kita. Jangan terpengaruh, mereka hanya menjalankan target penjualan. Model yang sedang menjadi tren bisa jadi tidak sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan Anda. Tidak mau kan memakai jaket bulu-bulu ala antartika di negara yang tropis ini?

3. Coba Dahulu
Menjatuhkan pilihan yang tepat tidak bisa terburu-buru. Ambil beberapa pilihan dan cobalah di kamar ganti. Penampilan yang sangat menarik di manekin belum tentu cocok di tubuh Anda. Dengan mencobanya terlebih dahulu Anda juga akan tahu bagian mana yang pas dan tidak.

4. Utamakan Kenyamanan
Model yang bagus juga tidak menutup kemungkinan akan bahan yang jelek. Pastikan saat mencoba Anda menggerakkan tangan, duduk dan berjalan. Jika dengan gerakan ini merasa tidak nyaman, berarti jaket ini belum tepat untuk Anda.

5. Jangan Ditumpuk
Lepaskan jaket atau jas yang Anda kenakan sebelum mencoba jaket yang ingin dibeli. Memakai pakaian yang ditumpuk dapat memperbesar ukuran tubuh Anda yang sebenarnya. Dengan begitu, Anda akan tahu ukuran mana yang pas di tubuh.


Editor : Dian Sukmawati

TIPS MEMBELI JAKET YANG PAS DI TUBUH

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »